Pages

Sabtu, 31 Januari 2015

Adab memotong kuku


            Mungkin diantara kita ketika memotong kuku suka asal-asalan mulai dari tangan kiri atau  tangan kanan. Walaupun terlihat hanya perkara kecil namun kadang-kadang ini adalah perkara besar. Dalam beberapa hokum islam, kuku tidak seharusnya diabaikan oleh umat islam  . misalnya ketika seorang umat dalam keadaan ihram haji/umrah didebda membayar dam karena memotong kukunya.

            Demikian juga kuku bias menyebabkan tidak sah wudhu ataupun mandi junub, jika air tidak sampai ke kuku. Yang berhubungan dengan kuu dari segi hokum, hikmah memotong kuku, memanjangkan, mewarnai kuk akan saya bahan kali ini.
1.       Hukum dan Hikmah Memotong kuku
Memotong kuku adalah amalan sunah. Sebagaimana disebutkan dalam hadist dari Aisyah RA “   Sepuluh perkara yang termasuk dalam fitrah (sunnah): memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air. Berkata Akaraia ‘berkata mus’ab’ , aku lupa yang kesepuluh kecuali berkumur”. Sekali lagi ini adalah bentuk menghilangkan segala kotoran yang melekat dicelah kuuk, apalagi jika kuku dibiarkan panjang.
2.        Cara dan Benda untuk Memotong Kuku
Menurut Imam an-Nawawi, sunah memotong kuku bermula jari tangan kanan keseluruhannya dan mulai dari jari kelingking lalu sampai pada ibu jari, kemudian dari tangan kiri daei jari kelingking ke ibu jari. Sementara alat meomotng kukunya dapat menggunakan gunting, pisau atau benda khas yang tidak menyebabkan mudharat pada kuku atau jari seperti alat pemotong kuku.
      Setelah selesai memotong kuku, sebaiknya segera membasuh tangan dengan air. Ini karena jika seseorang itu menggaruk anggota badan, dikhawatirkan akan menyebabkan penyakit kusta. Meurut kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah dalam Mahzab Hanafi bahwa makruh memotong kuku dengan menggunakan gigi juga dapat menyebabkan penyakit kusta.
3.       Waktu memotong kuku
Sebagaimana diriwayatkan daripada Annas bin Maik: “Telah ditetukan waktu kepada kami memotong kumis,kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih dari pada 40 malam”. Adapun menurut Imam asy-Syafi’e dan ulama-ulama asy-syafi’eyah, sunnah memotong kuku itu sebelum mengerjakan sholat ju’at sebagaimana disunahkan untuk mandi, bersiwak, memakai wewangian, berpakaian rapi sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan sholat jum’at. (hadis riwayat muslim).
4.       Menanam potongan kuku
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fath al- Bari, bahwa Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhu menanam potongan kuku.
5.       Memotong kuku ketika Haid, Nifas, dan Junub
Menurut kitab Al-Ihya, jika seseorang dalam keadaan junub atau berhadas besar, janganlah dia memotong kuku, jannganlah dia memotong rambut atau memotong sesuatu apapun yang jelas dari badannya sebelum dia mandi junib. Karena sgala potongan itu diakhirat kelak akan kembali padanya dengan keadaan junub.
6.       Memanjangkan kuk dan mewarnainya
Tabiat memanjangkan kuku dan membiarkannya tanpa dipotong adalah perbuatan yansg bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW, karena beliau menggalakkan supaya memotong kuku. Jika dibiarkan kuku itu akan panjang, niscaya banyak perkara –perkara yang membabitkan hokum seperti wudhu, mandi wajib, dan lain sbagainya.
            Adapun dalam hal mewarnai kuku, perempuan yang bersuami adalah haram hukumya unutuk mewarnaik kuku jika suaminya tidak mengijinkan. Sementara perempuan yang tidak bersuami haram pula hukumnya mewarnai kuku. Demikian juga jika pewarna itu diperbuat dari benda najis karena akan menghalangi masuknya air saat berwudhu ataupun saat mandi besar.
Walllahu’alam .
Sumber: Majalah Al-Falah 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar